• 06Jun
    Categories: Artikel Comments: 0

    Produsen dan Grosir Jilbab - Layla Eshki (33), tak kuasa menahan decak kagumnya ketika mengamati gaun putih bermotif abstrak di bagian ujung yang dikenakan salah satu pemenang World Muslimah Beauty 2012, Deanita. Ketika itu, para pemenang WMB 2012 tengah bertemu masyarakat Indonesia di Jeddah dan warga Arab untuk mengenalkan ajang pencarian duta Muslimah inspiratif itu di Jeddah, Jumat (31/5/2013) lalu.

    “It’s beautiful! I never seen hijab like this in here,” tukas Lyla sambil berkali-kali menyentuh pakaian muslim dari rumah busana Mumtaaz itu.

    Lyla bercerita bahwa di Arab Saudi, para perempuan hanya terpaku pada sebuah baju muslim dengan warna hitam. “Di sini, semuanya hitam. Tak ada warna-warna cantik seperti ini,” tutur perempuan yang bekerja sebagai fotografer lepas itu.

    Hampir seluruh toko, cerita Lyla, menjual jubah dengan warna hitam di tokonya. Jubah yang dikenal dengan sebutan abayya itu biasa dikenakan perempuan Arab sebagai baju pelapis mana kala pergi ke luar rumah. Lyla mengaku bosan melihat pakaian yang itu-itu saja di negaranya.

    “Yang saya tahu Islam itu tidak hanya hitam. Islam itu tidak membosankan, makanya saya pun pakai abayya dengan warna-warna cerah, meski hal ini tidak lazim di sini,” kata Lyla.

    Lyla melihat tampilan busana muslim karya para desainer dari Mumtaaz bisa menjadi salah satu panduan bagi perempuan Arab untuk berbusana muslim. Pasalnya, lanjut Lyla, kini perempuan Arab —khususnya di Jeddah— banyak yang terjebak dengan busana muslim yang tidak Islami.

    “Mereka mengenakan celana jeans ketat sampai terlihat g-string, atau menggunakan baju ketat sampai terlihat belahan dadanya. Jelas ini sudah salah mode,” tuturnya.

    Menurut Lyla, kesalahan mode itu lebih banyak terjadi di Jeddah. Sementara di Mekkah dan Madinah, hal tersebut tidak terjadi karena kedua kota itu adalah kota suci bagi umat Islam. Di Mekkah dan Madinah, aku Lyla, cara berpakaian perempuan sangat diatur secara ketat, berbeda halnya dengan di Jeddah.

    Manajer Operasional Mumtaz Boutique, Surya Artaty, menjelaskan bahwa pemilihan baju-baju yang dikenakan para pemenang WMB benar-benar dipilih secara selektif. Pasalnya, pada sesi pemotretan kali ini, para pemenang WMB dituntut untuk lebih menekankan busana muslim yang syar’i. Busana muslim syar’i yakni yang menutup aurat, tidak menunjukkan lekuk tubuh, dan kerudung menutup hingga bagian dada.

    “Untuk membuat busana muslim yang syar’i ini kami tidak memiliki tema khusus yang diangkat karena setiap desainer yang bergabung dengan kami memiliki ciri khasnya masing-masing,” imbuh Taty.

    Setidaknya ada 20 pakaian yang dikenakan para peserta WMB selama di Arab Saudi. Seluruh pakaian muslim itu merupakan karya dari Malik Moestaram, Dian Pelangi, Shebe, Adhy – Alie, Sascha, Astrie, Zebu, Jenahara, Nuniek Mawardi, Bilqis, dan Lia Afif.

    World Moslem Beauty merupakan ajang pencarian duta Muslimah inspiratif sedunia yang diselenggarakan oleh World Moslem Beauty Foundation. WMB merupakan acara tahunan yang dilakukan sejak tahun 2011. Tahun ini, WMB mengubah namanya menjadi Annual Award of World Muslimah.

    Perjalanan ibadah umrah ke Arab Saudi merupakan hadiah bagi para pemenang WMB 2012, sekaligus untuk mempromosikan kompetisi tersebut ke dunia. Ada tujuh pemenang yang mengikuti perjalanan ini, yaitu Nina Septiani (Juara I), Dwi Handayani Putri (Juara II), Anggun Hiasyah (Juara III), Tasya Gunoto (The Most Innovative Muslimah), Rizkitha (The Best Video and Al Quran Recitation by Polling), Al Khansa (The Most Talented Muslimah), dan Dheanita Tribuana (The Favorite by Polling).

    sumber: kompas.com

  • 27Mar
    Categories: Artikel Comments: 0

    Busana muslim kini bukan hanya semakin digemari di negara-negara yang mayoritas penduduknya Islam. Di negara seperti Amerika Serikat pun kini busana tersebut banyak diminati. Terbukti dengan adanya fashion show busana muslim bertajuk Fashion Fighting Famine yang diadakan sejak 2007 dan tetap eksis hingga kini. Pada 2013 ini, fashion show yang digelar untuk amal tersebut memasuki tahun penyelenggaraan keenam.

    Dengan semakin banyaknya peminat, Fashion Fighting Famine menjadi acuan desain baju muslim di Amerika Serikat. Tren terbaru karya desainer busana muslim dari berbagai belahan dunia ditampilkan di sini. Untuk tahun keenam ini, inilah sembilan desainer yang akan tampil pada 31 Maret mendatang di Irvine, California.

    1. Pretty Outfits by Samya
    Label ini adalah retailer eksklusif untuk Needlez by Shalimar, seorang desainer couture asal Pakistan. Koleksi semi-formal, formal dan baju pengantin menjadi pilihan yang akan mereka tampilkan tahun ini.

    2. Abaya Addict
    Didirikan pada musim dingin 2010, label yang berbasis di Chicago dan Dubai ini menawarkan model-model kaftan dan abaya. Namun, koleksinya kemudian berkembang pada desain yang lebih modern dan kerudun unik nan variatif tetapi tetap stylish.

    3. Rayan
    Duo bersaudara yang menaungi label ini adalah Nadia dan Nora Rayan. Mengkhususkan desain pada evening wear, warna-warna terang dan gaya retro dimunculkan dalam desainnya.

    4. Madamme Bk
    Menangkap permintaan konsumen muslim akan pakaian renang dan olahraga yang tetap memenuhi syariat Islam, label kolaborasi desainer Vanessa Lourenco dan retailer Asmah Asmed berhasil mengembangkan label ini sampai ke tiga benua.

    5. Inayah
    Menawarkan desain yang siap pakai. Inayah melengkapi koleksinya dengan gaya vintage, etnik dan kontemporer. Berdiri sejak tiga tahun lalu, label ini mempunyai spesialisasi pada potongan yang minimalis.

    6. Hijab House
    Hijab House adalah perusahaan busana muslim wanita pertama di Australia yang dipelopori oleh Tarik Houchar, pria keturunan Mesir-Libanon kelahiran Negeri Kanguru. Desain rancangannya sangat kekinian. Gaun jersey panjang dengan renda atau draping menjadi keunggulannya.

    7. SixteenR
    Menekankan pada desain kerudung yang tidak biasa dan cenderung quirky, Nancy Hoque adalah pionir di balik label ini. Rancangannya telah diterbitkan dalam beberapa majalah muslim seperti Aquila Style, Waves dan Eve.

    8. Mohajababes
    Pilihan kaftan etnik berpadu dengan bordiran manik-manik dan perhiasan adalah trademark dari label ini. Nama Mohajababes diluncurkan pada November 2011 oleh Afra Said dan adiknya.

    9. Nisaa Boutique
    Terinspirasi dari budaya Timur Tengah, label yang berasal dari Inggris ini memfokuskan pada busana berkualitas dengan teknik jahit yang detail.

    sumber: wolipop.com

  • 18Feb
    Categories: Artikel Comments: 0

    Tren Busana Muslim 2013 Sampai 2014 : Warna Pastel. Indonesia Fashion Week (IFW) 2013 berlangsung empat hari dengan tema berbeda setiap harinya. Pada hari kedua, 15 Februari 2013, IFW 2013 menghadirkan ragam kegiatan seputar busana muslim. Selain menampilkan ragam koleksi busana muslim rancangan desainer muda dan ternama Indonesia, aneka kegiatan yang memberikan inspirasi berbusana muslim, terutama berkerudung, juga berlangsung di area Main Lobby Jakarta Convention Center.

    Di panggung busana, ratusan model busana muslim ditampilkan. Setiap brand dan desainer menghadirkan ragam pilihan koleksi sesuai karakter dan selera. Meski berbeda gaya, sebagian besar desainer menampilkan busana muslim dengan warna-warna pastel. Warna-warna lembut inilah yang menjadi tren busana muslim untuk 2013 bahkan bisa bertahan hingga 2014.

    Dian Wahyu Utami dengan brand Dian Pelangi tampil dalam Fashion Parade IFW 2013 menampilkan koleksi edisi terbatas, terinspirasi padang pasir Afrika. Koleksi yang dipersiapkannya dalam seminggu ini menggunakan bahan sifon yang ringan, dengan warna hangat namun tetap menunjukkan karakter Dian Pelangi yang berani bermain warna dalam satu set busana. Warna hangat koleksi Dian Pelangi pun mewakili tren warna pastel pada busana muslim.

    Merek busana muslim ternama, Shafira, juga menampilkan warna pastel dalam koleksi terbarunya Jardin de la Sultana. Koleksi ini terinspirasi dari landscape garden, ikon istana Alhambra di Granada Spanyol. Shafira menerjemahkan tren warna pastel 2013 dengan nuansa berbeda. Koleksi evening wear yang ditampilkan Shafira dalam IFW 2013 hadir dengan warna pastel hasil percampuran warna rekayasa komputer. Sebanyak 72 set busana koleksi 2013 ini didominasi warna lembut, menghadirkan warna pastel dengan sentuhan teknologi.

    Jeny Tjahyawati dengan brand Jeny juga menampilkan warna pastel dalam pagelaran busana bertema Sweet Royale. Busana muslim termasuk kerudung dengan teknik makram hadir dengan warna lembut, didominasi pink.

    “Warna pastel menjadi tren 2013-2014 termasuk untuk busana muslim,” ungkapnya saat jumpa pers jelang show.

    Sementara bagi Nuniek Mawardi yang tampil mengangkat lurik, tren warna pastel tak berdiri sendiri. Dalam rancangannya, ia menampilkan warna new reinessance, warna pastel yang dipadukan dengan warna kuat.

    Setiap desainer menerjemahkan tren warna pastel pada busana muslim dengan gaya dan karakternya masing-masing. Anda punya banyak pilihan untuk menemukan gaya personal dalam berbusana muslim. Jika tak sempat melihat langsung pagelaran busana muslim, Anda masih bisa menemukan inspirasi gaya busana muslim di area pameran Indonesia Fashion Week 2013 yang buka hingga Minggu, 17 Februari 2013.

    sumber: kompas.com

  • 29Jan
    Categories: Artikel Comments: 0

    Suatu malam Suci Utami terkaget-kaget mendapat e-mail dari seorang perempuan warga Nigeria. Surat elektronik itu berisi pesanan sejumlah hijab (jilbab) merek Such! bikinannya. “Saya sampai merinding disko. Enggak nyangka ada orderan hijab dari Afrika,” kata Suci, 25 tahun, seorang fashion blogger khusus busana muslim.

    Perempuan Nigeria itu tertarik memesan setelah melihat video hijab tutorial di YouTube. Video itu memperlihatkan aksi Suci mengkreasikan hijab model layer. Di pengujung video, Suci mencantumkan alamat blognya, lastminutegirl.blogspot.com. Lewat bloglah keduanya kemudian berkomunikasi.

    Lebih dari seribu hijab dan inner ninja (dalaman hijab) dijual Suci saban bulan. Bukan hanya ke Nigeria, produk berlabel Such! juga sudah merambah pelbagai negara lain. Sejak diluncurkan pada 2011, Such! pernah dipesan warga Prancis, Australia, Afganistan, Singapura, Malaysia, Belgia, dan Rusia.

    Suci menilai larisnya produk Such! sebagai bukti betapa dahsyatnya kemampuan blog menyedot massa. “Ini the power of online,” ujar lulusan Komunikasi Pemasaran London School tersebut. Ia sendiri tak mengira blognya bakal digandrungi banyak hijaber–sebutan untuk mereka yang mengenakan jilbab–dari pelbagai negara.

    Hobi Suci mejeng di blog terinspirasi langkah fashion blogger muslim Hana Tajima. Dia juga terilhami sejumlah narablog mode lainnya, seperti Diana Rikasari dan Dian Pelangi. Melihat Hana, Diana, dan Dian kerap memasang foto fashion mereka di blog, Suci pun ketularan.

    Awalnya, Suci sekadar mengunggah foto-foto centilnya saat memadu-padankan baju dan hijab. Layaknya fashion blogger, ia juga membubuhkan sejumlah keterangan terkait dengan fashion item yang dikenakan, seperti merek dan tempat ia membelinya.

    Gaya berhijab yang kasual dan penuh warna menjadi pilihan Suci. Saat ditemui Tempo di Mal Pondok Indah, Jakarta, Rabu lalu, Suci mengenakan cardigan oranye neon, hijab cerruti,dan maxi dress bikinan Such! warna cokelat, serta tas dan sepatu teplek warna camel.

    Kekhasan gaya berpakaian Suci yang tak pernah meninggalkan warna ngejreng disukai pembaca blognya. Suci, yang mengunggah artikel di blog sepekan dua kali, mengaku kebanjiran e-mail dari pembaca sejak rajin memasang foto di blog pada 2010. Mereka umumnya menanyakan tip padu-padan baju yang unik sepertinya.

    Banyaknya respons positif terhadap blog fashion-nya membuat Suci tergelitik membuat clothing line. Pada 2011, ia pun meluncurkan label Such! by Suci Utami, yang menjual produk inner ninja, terusan, dan hijab. Label tersebut dikelola Suci bersama sang suami, Budy Kurnia Djuanda.

    Dipasarkannya Such! secara online sedikit mengubah cara Suci ngeblog. Sementara awalnya sekadar iseng, Suci kemudian mulai membuat foto-foto yang lebih terkonsep. Ia juga mulai membuat video hijab tutorial yang diunggah di YouTube. Walhasil, pesanan demi pesanan produk pun makin banyak ia dapatkan, seiring dengan jumlah pengunjung blognya yang menderas.

    Menurut Suci, kesuksesannya berbisnis fashion via blog juga berkat kawan-kawan se-gengnya di Hijabers Community. Anggota komunitas hijaber tersebut, seperti Dian Pelangi, Ina Rovi, Ria Miranda, Nalia Rifika, Fitri Aulia, dan Siti Juwariyah, disebut saling sokong dalam bisnis fashion.

    “Kami awalnya saling follow blog, karena saat itu memang belum banyak referensi berhijab. Baru setelah itu kami kopi darat, dan sukses bareng dengan clothing line masing-masing,” ujarnya. “Kalau saya bilang, kami ini menginspirasi satu sama lain.”

    Saling bantu dalam bisnis hijab fashion dibenarkan Siti, pemilik blog sitisstreet.blogspot.com. Siti mencontohkan, saat meluncurkan produk anyar lewat label Kaffah, ia biasanya mengenakan fashion item bikinan anggota Hijabers Community lainnya. “Kami itu sama-sama jualan hijab, tapi enggak saingan. Malah selama ini saling promosiin produk anggota lain,” katanya.

    Bukan hanya itu, ia dan Suci juga sudah berduet membuat DVD panduan memakai hijab, yang diluncurkan pertengahan tahun lalu. Seribu keping DVD ludes dalam waktu empat bulan. Terilhami kesuksesan itu, Siti dan Suci berniat membuat DVD hijab tutorial jilid dua. Rencananya, dalam DVD tersebut keduanya akan mengajarkan sepuluh gaya berhijab.

    Menurut Siti, ia memutuskan berduet dengan Suci dalam proyek DVD karena gaya berhijab keduanya berbeda. Suci tergolong berani bermain tabrak warna, sedangkan Siti lebih suka cari aman. Warna-warna pastel dan gelap kerap jadi pilihannya dalam bergaya “simple-casual but chic”.

    “Aku kurang suka gaya yang heboh. Suka pusing sendiri lihat ibu-ibu yang berlebihan kalau pakai hijab,” kata pencinta kalung ini, yang produk hijabnya sudah tersebar di Singapura, Malaysia, dan enam kota di Indonesia.

    Proyek berbasis pertemanan sebagai sesama hijab fashion blogger lainnya adalah novel Hijabist: Confessions of Hijab Fashion Bloggers. Novel itu ditulis Suci, Siti, dan Restu Anggraini. Tahun ini, kata Siti, ia dan kedua kawannya bakal menulis sekuel novel yang berkisah tentang perjalanan bisnis fashion mereka.

    Lewat buku, Siti, Suci, dan Restu berharap bisa berbagi kisah positif yang memberi inspirasi. Hal itu diiyakan anggota Hijabers Community lainnya, Fitri Aulia. Pemilik label Kivitz itu mengaku serius menjadi fashion blogger sejak 2010, karena ingin memberi contoh berhijab yang sesuai dengan akidah.

    Fitri menilai selama ini masih banyak muslimah yang cara berjilbabnya tidak syar’i. “Saya ingin menunjukkan, begini lho berhijab yang modis tapi tidak keluar jalur akidah,” kata penggemar Hana Tajima yang mulai berjilbab sejak 2008 ini.

    Lewat blog kivitz.blogspot.com, perempuan 24 tahun ini menuangkan ide berhijab yang ia pandang ideal. Kivitz sendiri selama ini konsisten mengeluarkan produk terusan, rok, blazer, dan jilbab. Celana tidak pernah diproduksi Kivitz lantaran dianggap Fitri tak sesuai dengan gayanya.

    Menurut Fitri, sampai saat ini ia tak bosan terus berkomunikasi dengan pembaca blognya, baik lewat fitur “comment” maupun e-mail. Dengan begitu, bukan hanya dagangannya yang laris, niatnya berdakwah pun tersampaikan.

    sumber: ISMA SAVITRI, tempo.co

  • 28Jan

    Kisah Nyata : Dibanding Uang Yang Anda Tawarkan Jilbab Saya Jauh Lebih Berharga!

    Kisah ini dikirim oleh sahabat kami. Semoga bisa menjadi sebuah inspirasi untuk sahabat muslimah Vemale.

    ***

    Orang bilang, selalu ada godaan besar saat kita berpegang teguh pada sebuah keputusan. Bagaimana seseorang menanggapi godaan itu, apakah akan tetap kuat pada pendirian atau goyah, tergantung masing-masing orang. Saya pernah berada dalam situasi itu, mendapat materi melimpah, tetapi harus melepas kewajiban saya sebagai seorang muslimah.

    Saya adalah wanita sederhana, dibesarkan oleh keluarga yang memiliki pikiran modern. Sejak kecil, saya dibebaskan untuk mengambil keputusan apapun. Orang tua saya tidak pernah meminta saja harus masuk sekolah mana, harus masuk jurusan apa, tidak seperti orang tua kebanyakan, yang sering memaksa anak mereka melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kata hati. Maka saya tumbuh menjadi gadis mandiri yang ambisius. Menurut saya, ambisius itu bagus, karena tanpa sikap ambisius, seseorang hanya akan jadi pemalas yang membebani orang lain.

    Sikap itu membuat saya selalu mendapatkan nilai-nilai terbaik di sekolah. Mendapat beasiswa menjadi hal biasa, karena tanpa mengajukan beasiswa sekalipun, sekolah selalu mengajukan saya untuk menerima beasiswa berprestasi. Tentu saja saya bersyukur, karena itu adalah bukti bahwa saya tidak main-main dengan pendidikan, saya juga bisa meringankan beban kedua orang tua. Bagi saya, pendidikan adalah jalan terbaik untuk pegangan masa depan. Setidaknya, kelak saya akan menjadi ibu, maka pengetahuan adalah salah satu pondasi kuat untuk mendidik anak-anak, dengan agama sebagai pondasi agama tentunya.

    Walaupun ambisius, saya tidak meninggalkan nilai-nilai agama yang sudah diberikan kedua orang tua saya. Saya tidak pernah dipaksa memakai busana muslimah atau jilbab. Kesadaran itu datang saat saya duduk di kelas 3 SMA. Ada keyakinan kuat untuk memperbaiki penampilan saya. Maka sejak saat itu, saya selalu memakai jilbab. Sedikit demi sedikit belajar memakai jilbab sesuai yang diperintahkan. Bukan hal yang mudah, saat itu masih sedikit yang memakai jilbab. Kadang saya masih iri dengan teman-teman saya yang bisa memakai pakaian dengan jenis yang beragam. Beruntung, saya tetap bertahan dengan keputusan saya.

    Tahun berlalu dan saya lulus dari sebuah perguruan tinggi sebagai Sarjana Akuntansi di tahun 2003. Sama seperti lulusan pada umumnya, saya mulai melempar surat lamaran kerja di berbagai perusahaan. Dengan nilai yang memuaskan, bukan hal yang sulit untuk menerima panggilan kerja. Hingga saya berhasil melewati empat tahapan tes di sebuah bank swasta yang cukup terkenal. Saat memasuki tahap wawancara, pihak bank tersebut menawarkan posisi dan jabatan yang jarang didapat oleh fresh graduate seperti saya. Menurut mereka, saya punya kemampuan analisis yang baik, sehingga sangat mungkin ditempatkan di posisi yang lebih tinggi dibanding posisi yang saya lamar.

    Saya bahagia, seperti mendapatkan berkah yang besar sekali. Tetapi kebahagiaan saya hanya sesaat, karena pihak bank meminta saya untuk mengikuti salah satu syarat yang ada, yaitu memakai seragam untuk karyawati. Seragam tersebut memakai kemeja, blazer lengan panjang, dan rok selutut. Rambut harus diperlihatkan dan digulung rapi. Dengan kata lain, saya harus melepas jilbab dan pakaian muslimah yang melekat di tubuh saya.

    Menanggapi hal itu, saya mencoba melakukan tawaran untuk memakai seragam rok panjang dan memakai jilbab yang rapi. Tetapi peraturan bank tersebut tidak bisa dengan mudah diganti begitu saja. Sehingga mereka kembali menawarkan gaji dan bonus yang sangat besar. Jujur, saya manusia biasa, jumlah uang yang ditawarkan sangat banyak. Saya bisa memberangkatkan orang tua ke Tanah Suci, itu adalah salah satu cita-cita saya. Saya bisa mewujudkan cita-cita itu dalam waktu beberapa bulan saja.

    Hati saya seolah mengalami pertengkaran. Pihak bank bersedia menunggu jawaban saya selama tiga hari. Selama tiga hari, saya curhat dengan orang tua terlebih dahulu. Mereka menganggap saya sudah dewasa untuk mengambil keputusan, sehingga semua diserahkan kembali pada saya. Batin saya belum tenang, kesempatan tidak datang dua kali. Tetapi apakah saya harus mengorbankan perintah Allah SWT demi semua materi itu? Setelah melakukan Salat Istikhaarah, saya mantap untuk menolak tawaran itu. Saya menolaknya dengan halus, pihak bank juga melepas saya dengan baik.

    Tidak apa-apa, mengapa takut kekurangan materi, karena saya yakin, Allah SWT lebih kaya dibandingkan tawaran yang diberikan. Mengenai impian untuk kedua orang tua saya, naik haji, pasti ada jalan. Niat baik selalu mendapat jalan yang baik, saya percaya akan hal itu.

    Dua bulan setelah kejadian tersebut, saya diterima bekerja di sebuah bank pemerintah. Memang, gajinya tidak sebesar tawaran yang lalu, tetapi hati ini tenang karena saya diizinkan memakai seragam yang sesuai. Jika percaya akan sebuah keyakinan, maka itulah yang terjadi. Pihak bank menilai prestasi kerja saya sangat bagus. Bonus mengalir hampir setiap bulan. Sedikit demi sedikit saya menabung, untuk masa depan saya dan tabungan haji kedua orang tua.

    Alhamdulillah, di tahun 2008, kedua orang tua saya berangkat ke Tanah Suci. Saya tidak ikut, biarlah kedua orang tua saya berangkat terlebih dahulu, saya yakin suatu saat kelak akan menyusul ke sana.

    Sekarang, kehidupan saya lebih baik. Saya juga sudah menikah di tahun 2009. Bersama suami saya, kami sudah punya tabungan sendiri untuk pergi ke Tanah Suci, semoga impian kami terkabul beberapa tahun lagi.

    Itulah kisah saya yang sempat goncang saat melihat sejumlah materi yang ditawarkan. Tetapi keyakinan saya memilih untuk tetap di jalan-Nya, dan saya tidak menyesali keputusan tersebut, tidak sedikitpun.

    Semoga kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi Anda.

    sumber: Vemale.com – Oleh: Widya A. L.

  • 27Jan
    Categories: Artikel Comments: 0

    Itang Yunasz : Lestarikan Bordir ! Untuk Mengenang Ramli. Para perancang busana Indonesia, melalui Itang Yunasz, tengah menggagas untuk mengadakan peragaan busana yang mengangkat konsep bordir. Ide ini mengemuka setelah perancang yang dikenal setia mengeksplorasi bordir dan kain nusantara, Ramli, berpulang.

    Seperti diberitakan sebelumnya, Ramli menghembuskan nafas terakhir dalam usia 62 tahun di Rumah Sakit Gading Pluit, Jakarta Utara, Rabu (23/1/2013) pukul 06.45 lalu. Ramli tak mampu lagi bertahan setelah selama tiga tahun terakhir bergulat melawan penyakit kanker usus.

    “Sebenarnya ini baru taraf ide. Rencananya seluruh desainer membuat bordir sebagai penghormatan terhadap Ramli,” ucap Itang kepada Kompas Female, yang ditemui saat melayat almarhum Ramli di kediamannya, jalan Semarang No 1, Menteng, Jakarta.

    Ide tersebut ditanggapi positif oleh rekan-rekan desainer lain. “Ramli bisa dikatakan bapak bordir Indonesia, dan ia telah meninggalkan warisan ilmu yang sudah dibukukan. Jangan sampai terputus, supaya bordir tetap dicintai di Indonesia,” timpal Ghea Panggabean.

    Karena baru sekadar ide, Itang belum dapat menjelaskan detail dari peragaan busana ini. Hanya saja, para desainer yang dekat dengan Ramli telah menyatakan kesediaannya untuk bergabung. “Kalau perlu kita ajak desainer muda juga untuk mengeksplor bordir Ramli. Agar ilmunya tidak berhenti sampai di sini,” kata Itang lagi.

    Itang memang merupakan salah satu dari sekian desainer yang dekat dengan Ramli. Itang mengaku, Ghea dan dirinya termasuk yang paling sering diajak mengikuti show Ramli di mancanegara. Setiap kali menggelar show bersama ke mancanegara, Ramli selalu menjadi desainer pertama yang menerima pesanan busana.

    “Dan ordernya pun tak putus-putus. Saya heran, sampai saya tanya rahasianya. Waktu itu jawabanya: coba pakai bahan dan material Indonesia. Ia menyarankan untuk menonjolkan Indonesianya,” lanjut Itang.

    Ghea pun memiliki kenangan tersendiri mengenai perancang yang tumbuh besar di Tarempa, Kabupaten Kepulauan Anambas (Natuna) itu. Ia mengaku tak akan pernah lupa kenangan saat pergelaran busana ke Timur Tengah pada tahun 1986. Kebersamaan di negeri orang membuat mereka menjadi sangat dekat, seperti bersama keluarga sendiri.

    Baik Itang maupun Ghea mengenang Ramli sebagai orang yang giat mengajak desainer lain untuk memamerkan karya ke mancanegara. “Dia selalu mengajak desainer lain saat show, kami juga diberikan spot yang bagus untuk pameran,” sambung Ghea.

    Ramli juga sosok yang selalu berbesar hati. “Karya Ramli banyak ditiru tapi dia tetap berbesar hati. Sebab bagi Ramli hidupnya tercurah untuk kemajuan fashion Indonesia pada umumnya,” kenang perancang Chossy Latu, yang telah mengenal Ramli sejak duduk di sekolah dasar.

    Ramli selalu ingin dunia mode Indonesia semakin maju dan dikenal di mana-mana.

    sumber: kompas.com

  • 27Jan
    Categories: Artikel Comments: 0

    Ramli Memberdayakan Perempuan Lewat Bordir Kata Linda Gumelar. Desainer senior Ramli pergi selamanya dengan meninggalkan warisan berharga yakni berkembangnya bordir di Indonesia serta pemberdayaan perempuan di baliknya.

    Seperti diberitakan, Ramli mengembuskan napas terakhir pada usia 62 tahun (bukan 58 tahun seperti diberitakan sebelumnya) di Rumah Sakit Gading Pluit, Jakarta Utara, Rabu (23/1/2013) pukul 6.50. Ramli meninggal dunia setelah dirawat selama dua minggu di rumah sakit tersebut karena kanker usus yang dideritanya.

    Bagi sahabatnya, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari Gumelar, Ramli tak hanya memiliki kontribusi besar terhadap pengembangan bordir dalam produk fashion, namun juga dalam program pemberdayaan perempuan.

    “Saya bersahabat dengan Ramli, pernah kerjasama di Yayasan Kanker. Sejak muda saya senang dengan rancangannya, dedikasinya mengembangkan bordir dan memberdayakan perempuan lewat bordir,” tuturnya kepada Kompas Female di sela Pembekalan Pemilihan Puteri Indonesia 2012-2013 di Hotel Sahid Jakarta, Jumat (25/1/2013).

    Menurut Linda, di eranya, masyarakat lebih menerima dan menghargai bordir karena jasa Ramli. Bagaimana Ramli mensosialisasikan bordir membuat lebih banyak orang mengapresiasi produk fashion dari bordir rancangannya. Ramli juga melibatkan banyak pihak dalam mengembangkan bordir, termasuk perempuan di daerah.

    Ia juga mengatakan, kalau perempuan Jawa Barat berkembang dengan produk bordir, salah satunya merupakan dampak dari upaya yang dilakukan Ramli dengan karyanya. Upaya Ramli mengembangkan bordir berdampak luas pada masyarakat, dalam hal ini kaum perempuan para perajin di daerah.

    Linda mengaku belum menemukan desainer lain yang memiliki dedikasi seperti Ramli. Namun ia yakin, akan muncul penerus Ramli ke depannya. “Saya belum lihat tapi akan muncul penerusnya. Anak muda sekarang memiliki konsentrasi tinggi di fashion, punya akses dan potensinya besar,” ujarnya.

    sumber: kompas.com

  • 24Jan

    Inilah Manfaat Cantik dan Sehat Menggunakan Hijab. Kabar baik bagi Anda yang menggunakan busana muslimah. Penelitian dari berbagai sumber menyebutkan beberapa manfaat cantik dan sehat dalam menggunakan hijab. Penasaran apa saja manfaatnya? Ini dia.

    1. Terlindung dari sinar matahari langsung

    Hijab melindungi kulit Anda dari sinar matahari langsung. Apalagi dengan cuaca saat ini di mana paparan sinar matahari tidak terfilter dengan baik ke bumi. Sinar matahari yang langsung menyengat kulit beresiko memunculkan flek hitam, membuat kulit kering dan terbakar.

    2. Rambut lebih sehat

    Rambut kita terlindung dari debu, sinar UV dan polusi, sehingga batang rambut lebih terjaga kesehatan dan kebersihannya. Interaksi rambut langsung dengan dunia luar bisa membuat warna dan kemilau rambut jadi kusam. Walau rambut cukup terlindungi dengan menggunakan hijab, tetap diimbangi dengan perawatan ya, Ladies.

    3. Lebih tahan terhadap penyakit

    Kebiasaan menggunakan hijab akan menjadikan kita pribadi yang lebih telaten dan bersih. Hal ini secara tidak langsung menjaga imunitas tubuh kita. Karena kebiasaan kita menjaga kebersihan dan tubuh yang terlindung dari kontak fisik secara langsung, membuat kita jauh dari virus-virus penyakit.

    4. Lebih tenang

    Menggunakan hijab tidak hanya mempengaruhi kesehatan dan kecantikan tubuh, tapi juga pikiran. Hal ini karena adanya pengaruh antara tindakan nyata dengan pola pikir pengguna hijab. Sebagaimana hijab merupakan pakaian yang diwajibkan dalam spiritual Islam, maka pakaian ini bisa menenangkan batin dan membahagiakan penggunanya.

    Nah, itulah beberapa manfaat dalam menggunakan hijab. Tidak hanya membuat cantik dan sehat, tapi juga membuat hidup lebih bahagia.

    Tips kecantikan alami, Klik disini

    sumber: vemale.com

  • 09Jan
    Categories: Artikel Comments: 0

    Tren Busana Muslim 2013 ? Berbusana muslim tidak menjadi halangan untuk bisa tampil stylish dan cantik. Berbagai busana panjang dan jilbab penutup aurat yang digunakan juga bisa dipasangkan dengan banyak cara agar terlihat lebih modis. Selain mix and match busana yang tepat, keindahan busana muslim juga dipengaruhi juga oleh tren terbaru.

    “Tren busana akan selalu berputar. Tahun ini tren busana muslim akan kembali seperti beberapa tahun lalu,” ungkap Irna Mutiara, desainer busana muslim kepada Kompas Female, di sela-sela pagelaran busana muslim Up2date “Retrospection” di Hotel Mulia, Jakarta Selatan.

    Irna menambahkan, tahun ini tren busana muslim akan tampak sangat berbeda dengan tahun 2012. Tahun lalu, busana muslim terlihat sangat berani dan penuh warna. Desain dan cutting yang unik terlihat mendominasi. Misalnya, asimetris, kerut, aksen tumpuk, sampai tabrak warna cerah yang berani. Selain itu, busana muslim juga didominasi gaya yang lebih glamor dengan detail manik-manik serta aksesori bling-bling di beberapa bagiannya.

    Tahun ini, tren busana muslim akan terkesan lebih simpel. Cutting busananya akan kembali ke era yang sederhana. Gaun-gaun panjang dengan lipit besar, rok panjang lurus, celana harem, dan jaket simpel akan kembali jadi tren. Selain itu, detail busana yang ditampilkan juga terkesan lebih sederhana. Busana muslim juga tidak akan mengaplikasikan detail-detail yang glamor. Sebagian besar detailnya hanya dihasilkan dari lipatan-lipatan kain bajunya saja, misal draperi dan kerut.

    Satu ciri khas yang masih akan tren di tahun ini adalah aksen tumpuk. Hanya saja, aksen tumpuk yang ditampilkan tidak terlalu banyak sehingga masih terlihat sederhana dan tidak berat. “Warna-warna yang digunakan pada tahun ini tidak secerah tahun lalu. Sekarang ini, warnanya lebih lembut dan cenderung gelap seperti coklat, hijau militer, biru gelap, salem, dan hitam. Motifnya pun banyak didominasi dengan motif polos,” tambah Irna.

  • 27Dec
    Categories: Artikel Comments: 0

    Produk fashion dari dalam negeri, termasuk busana muslim, buatan pengusaha kecil dan menengah terus berkembang menyesuaikan tren dan selera pasar. UKM juga terus berbenah memperbaiki kualitas, memberikan lebih banyak pilihan gaya busana yang tak ketinggalan tren kekinian. Seperti koleksi busana muslim di area UKM Thamrin City Lantai 5 Jakarta.

    Koleksi busana muslim, utamanya kerudung yang menjadi andalan pusat belanja ini, kerap dipilih sejumlah butik bahkan mal/department store ternama untuk dijual kembali. Kerudung yang Anda beli di department store ternama bisa jadi berasal dari pusat grosir atau produsen ini, dengan harga yang sudah dibanderol lebih tinggi dan label yang diganti. Jika Anda berbelanja sendiri di pusat grosir ini, Anda bisa mendapatkan harga lebih murah dengan kualitas yang sama.

    “Biasanya artis atau butik dan mal/department store yang belanja busana muslim, terutama kerudung, mengganti label produk dan menjual dengan harga berkali-kali lipat,” ungkap H Fikri, MAg, MBA, Ketua Persatuan UKM Thamrin City Lantai 5 saat temu media di Thamrin City, Jakarta, beberapa waktu lalu.

    Fikri mengatakan, produk UKM busana muslim dari pusat grosir ini menyebar di berbagai pusat belanja mulai pasar grosir, mal, department store, hingga butik milik artis. Tak hanya di Jabodetabek, produk UKM busana muslim ini juga bisa ditemui hingga Papua, serta negara lain seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand dan belakangan Filipina.

    Pusat belanja ini ramai pembeli terutama kalangan agen/distributor pada Senin dan Kamis, mulai pukul 04:00 hingga 12:00. Anda bisa mendapatkan koleksi terkini dengan harga grosir yang lebih murah pada jam-jam ini. Namun memang Anda harus berdesakan dengan para reseller yang memiliki kebiasaan belanja Senin dan Kamis di pusat grosir busana muslim Thamrin City.

    Jika ingin lebih nyaman belanja, Anda bisa mengunjungi area UKM ini di luar waktu tersebut, juga di hari lain di luar Senin dan Kamis. Anda masih bisa mendapatkan koleksi terbaru dari sekitar 1000 toko. Satu toko biasanya menjual 1-2 merek busana muslim. Mengelilingi satu lantai area UKM ini, Anda bisa menemukan beragam koleksi kerudung, busana muslim perempuan, baju koko, sajadah termasuk untuk anak-anak, hingga aksesori lain yang melengkapi penampilan berbusana muslim.

    Meski produk UKM ini dibanderol dengan harga lebih murah, Fikri mengakui, belum banyak orang yang memilih berbelanja di pusat grosir ini terutama secara ritel. Padahal sejak tahun 2000, produk UKM lebih inovatif dalam menciptakan rancangan busana muslim. Selera pasar menjadi perhatian utama para produsen.

    Soal kualitas, produk UKM juga semakin meningkatkan daya saingnya. Bahkan produk lokal semakin menggeser busana muslim impor terutama dari China. Dua tahun terakhir, produk fashion muslim impor semakin lesu karena kualitas produk yang rendah. Beberapa produk jilbab impor misalnya, seringkali ditemukan cepat kusam dan warna memudar setelah dicuci.

    Menggali inspirasi dari desainer, internet, juga kalangan artis yang kerap menjadi acuan tren berbusana muslim, para produsen menciptakan koleksi busana muslim yang lebih beragam dengan meningkatkan kualitasnya. Alhasil, koleksi busana muslim dari pusat belanja ini pun kerap dicari reseller dan pebisnis berbagai kalangan. Dengan kualitas yang sama, barang dari pusat grosir ini bisa dibanderol dengan beragam harga.

    “Sajadah yang di sini dijual Rp 120.000 bisa dibanderol Rp 700.000 di mal ternama,” ungkap Fikri.

    Jika Anda bisa menghemat belanja produk UKM berkualitas di pusat grosir, mengapa lantas harus membelinya di mal dengan harga melambung tinggi? Menurut Fikri, produk UKM masih dipandang sebelah mata dan minim promosi. Imej produk UKM memang masih rendah dan perlu ditingkatkan. Meski realitasnya, produk UKM diakui kualitasnya oleh berbagai kalangan.

    Kalau Anda tertarik menemukan pengalaman belanja busana muslim di pusat grosir, datanglah lebih pagi. Fikri mengatakan, biasanya mulai pukul 14:00 toko mulai tutup, hanya 40-50 persen yang masih membuka tokonya. Meski ribuan toko ini, 70-80 persennya menjual grosir, Anda tetap bisa leluasa berbelanja satuan. Namun memang harga ritel dan grosir, berbeda 5-10 persen.

    Tertarik menelusuri pusat grosir untuk menambah koleksi busana muslim Anda?

    sumber: kompas.com